Dars 1


Dars 1:: PENDAHULUAN Nahwu

Dars 1 Pendahuluan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillah washsholaatu wa salaamu 'alaa rosuulillaah 'amma ba'du.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى yang senantiasa memberikan nikmat dan karunianya sehingga kita masih dapat terus belajar dan belajar dalam rangka memperdalam ilmu agama.

Pada pelajaran yang pertama ini in syaa' Allah kita akan membahas tentang pengantar ilmu nahwu dimana kita akan mengetahui apa itu ilmu nahwu dan mempelajari di dalam ilmu nahwu.

Para peserta program BISA yang dirahmati Allah سبحانه وتعالى,  ilmu nahwu merupakan salah satu ilmu yang penting dalam mempelajari bahasa arab karena dengan ilmu ini kita dapat mengetahui bagaimana cara menyusun kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa arab yang baku. Dengan ilmu nahwu ini kita bisa menyusun kalimat dengan benar.

Apabila sebelumnya pada ilmu sharaf kita telah belajar bagaimana cara merubah suatu kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain, maka pada ilmu nahwu ini kita akan mempelajari bagaimana cara menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat yang sempurna, baik sempurna susunannya atau sempurna maknanya. Karena bahasa arab memiliki struktur kalimat yang agak berbeda dengan bahasa Indonesia. Oleh karena itu penting bagi kita, apabila kita ingin memahami kalimat-kalimat bahasa arab, apabila kita ingin memahami ayat-ayat Alqur'an, hadits-hadits Rasul dan kitab para ulama, maka kita harus terlebih dahulu memahami ilmu nahwu ini.

Untuk memudahkan gambaran apa yang dipelajari pada ilmu nahwu maka kita bisa memperhatikan adanya perbedaan harokat di dalam Alqur'an. 

Pernahkah kita berfikir, kenapa kata atau lafazh Allah سبحانه وتعالى Jalla Jalaaluh di dalam Alqur'an memiliki harokat yang berbeda-beda? Terkadang lafazh Allah berharokat dhommah, kemudian terkadang kasroh dan terkadang juga fathah.

Misalkan dalam lafazh basmalah

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢ
(bismillaahir rahmaanir rahiim)
Di situ lafazh Allah kita baca dengan kasroh. 

Kemudian pada ayat kursi (Albaqoroh 255)

ﺍﻟﻠّٰـﻪُ ﻟَﺂ ﺇِﻟٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻰُّ ﺍﻟْﻘَﻴُّﻮﻡُ ۚ ...

Kita membaca Allaaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, lafazh Allah (Allaahu laa), kita baca dengan harokat dhommah.

Kemudian di kesempatan lain, masih di surat Albaqoroh, kita membaca 

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮِﻳﻦَ

innalaaha ma'ash shoobiriin (Albaqoroh 155), lafazh Alah di kalimat ini kita baca dengan harokat fathah. 

Kemudian contoh lain misal lafazh alhamdu, terkadang kita menemukan lafazh alhamdu ini berharokat dhommah, kadang dia fathah dan kadang kasroh, contohnya dalam Alfatihah, kita membacanya 

ﭐﻟۡﺤَﻤۡﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﭐﻟۡﻌَـٰﻠَﻤِﻴﻦ

alhamdulillaahi robbil 'aalamiin, alhamdu dengan dhommah. 
Kemudian di kesempatan lain bila kita sering mendengar khutbatul haajjah bagi para penceramah atau khatib, itu memulai khutbahnya dengan 

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ 

innal hamda lillaah, kata alhamda di sini berharokat fathah. 

Kemudian dalam kesempatan lain kita juga menemukannya berharokat kasroh seperti dalam kitab matan Albayquni, disitu dikatakan 

أَبْدَأُ بِالْحَمْدِ

abdau bilhamdi (saya memulai dengan memuji Allah), abdau bilhamdi itu berharokat kasroh.

Apakah perbedaan harokat ini tidak memiliki aturan baku? Artinya kita bisa secara bebas memberi harokat dhommah, fathah, kasroh. Atau adakah kaidah yang mengatur perubahan harokat ini? 

Jawabannya na'am, kaidah pemberian harokat ini dibahas di ilmu nahwu. Karena di dalam bahasa arab, perbedaan harokat akan membawa pada perbedaan makna yang sangat signifikan, artinya bisa jadi pelaku menjadi korban dan korban menjadi pelaku. Contohnya misalkan contoh kalimat "dhoroba zaydun bakron"

ضَرَبَ زَيْدٌ بَكْرًا

Kalau kalimatnya seperti ini maka maknanya adalah "Zaid telah memukul Bakr".

Akan tetapi kalau kalimatnya 

ضَرَبَ بَكْرٌ زَيْدًا

dhoroba bakrun zaydan (kita balik, tadi dhoroba zaydun bakron), maka maknanya adalah "Bakr telah memukul Zaid".

Ini contoh penggunaan harokat dalam bahasa arab dimana harokat ini menjadi penting karena dia menjadi tanda bagi suatu kedudukan dalam bahasa arab, artinya ada harokat-harokat tertentu yang memang dikhusukan untuk pelaku dan ada harokat-harokat tertentu yang memang dikhusukan untuk korban atau objek. 

Ini contoh penggunaan ilmu nahwu. Artinya di dalam ilmu nahwu kita akan membahas bagaimana cara memberi harokat yang benar dalam bahasa arab. Karena memang ilmu nahwu ini, seperti yang sudah saya jelaskan tadi, mempelajari cara bagaimana kita menyusun kalimat yang benar sesuai kaidah bahasa arab. Jadi kita mempelajari bagaimana cara menyusun kalimat yang benar dalam bahasa arab.

Setidaknya ada 2 hal yang dipelajari dalam ilmu nahwu ;
1. Bagaimana kita menyusun kata-kata dalam kalimat tersebut, artinya mana yang lebih didahulukan antara kata kerja dengan subjek, kata kerja dengan pelaku, kemudian antara objek atau antara korban dengan pelaku, ini dipelajari di ilmu nahwu.
--> kita mempelajari letak suatu kata dalam suatu kalimat

2. Kondisi akhir dari setiap kata.
Jadi dalam ilmu nahwu kita juga mempelajari bagaimana kondisi terakhir dari suatu kata yang ada dalam suatu kalimat, apakah dia dibaca dhommah seperti tadi Zaydun, ataukah fathah Zaydan atau Zaydin. 

Ini 2 hal yang dibahas dalam ilmu nahwu.

Saya ulangi, 
Hal pertama yang dibahas dalam ilmu nahwu adalah bagaimana kita menyusun kata dalam suatu kalimat, mana yang lebih didahulukan antara kata kerja dengan subjek ataukah subjek didahulukan daripada kata kerja. Kemudian mana yang didahulukan antara subjek dengan objek (antara pelaku denga korban). Ini dipelajari dalam ilmu nahwu.

Kemudian yang kedua, kita juga mempelajari kondisi atau keadaan akhir dari setiap kata yang ada di dalam kalimat, apakah dia dibaca dhommah, kasroh, fathah atau sukun.

Jadi ini 2 hal yang kita pelajari dalam ilmu nahwu karena dalam membentuk kalimat bahasa arab ada kaidah-kaidah yang harus kita perhatikan. Dan in syaa' Allah ketika kita telah menghafal kaidah-kaidah ini dan kita telah memahami kaidah-kaidah ini kita akan mudah dalam membuat kalimat bahasa arab.

Ini cakupan ilmu nahwu, yaitu kita bisa mengetahui bagaimana cara menyusun kalimat yang benar dalam bahasa arab, dan ini cukup untuk pemula. Artinya dengan hanya mempelajari ilmu nahwu dan ilmu sharaf, in syaa' Allah ini cukup untuk kita dalam memahami ayat-ayat Alqur'an kemudian dalam memahami hadits-hadits Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dan juga memahami kitab-kitab para ulama. 

Akan tetapi apabila kita merasa tidak puas dengan ilmu bahasa yang tidak hanya mempelajari yang benar saja tetapi ingin juga mempelajari keindahan sastra arab maka kita bisa mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Artinya kalau kita tidak cukup dengan hanya sesuai dengan kaidah saja tapi kita ingin mempelajari keindahan bahasa arab, sebagaimana yang tercermin dalam Alqur'an, banyak bahasa-bahasa yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu nahwu karena cakupan ilmu nahwu hanya sebatas mempelajari kaidah penyusunan kalimat sesuai dengan kaidah bahasa arab yang formal atau yang baku. Akan tetapi apabila kita ingin mempelajari nilai sastranya kemudian keindahan bahasanya, baik dari sisi susunannya, pemilihan katanya dan kemudian dari sisi maknanya, maka banyak ilmu lain yang bisa kita pelajari di antaranya ;
# ilmu balaghoh (yakni ilmu tentang keindahan bahasa), kemudian,
# ilmu ma'ani (yakni ilmu tentang bagaimana kita memahami teks sesuai dengan konteks) dan,
# ilmu arudh (yaitu ilmu tentang kaidah-kaidah syair bahasa arab). 

Diluar 3 cabang ilmu bahasa ini sebetulnya masih banyak sekali cabang-cabang ilmu bahasa yang bisa kita pelajari. Akan tetapi bagi para pemula dengan hanya mencukupkan ilmu nahwu dan ilmu sharaf, ini in syaa' Allah cukup untuk sekedar memahami makna yang terkandung dalam Alqur'an atau dalam hadits Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم  atau dalam kitab para ulama.

Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita bersemangat dalam mempelajari ilmu nahwu ini karena bagaimana kita bisa memahami Alqur'an apabila kita tidak memahami bahasanya. Bagaimana kita bisa menyelami lautan hikmah dalam hadits-hadits Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم apabila kita tidak memahami bahasanya.

Apalagi Allah سبحانه وتعالى berfirman di dalam surat Yusuf ayat 2

ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﻗُﺮْﺁﻧًﺎ ﻋَﺮَﺑِﻴًّﺎ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa Alqur'an dengan bahasa arab agar kamu memahaminya". 

Ini merupakan isyarat dari Allah سبحانه وتعالى bahwasanya bahasa arab ini mudah.

Kemudian Allah سبحانه وتعالى juga berfirman "bilisaanin 'arobiyyin mubin" 
ﺑِﻠِﺴَﺎﻥٍ ﻋَﺮَﺑِﻲٍّ ﻣُﺒِﻴﻦٍ

"Dengan bahasa Arab yang jelas". (Asysyuaro 195)
ٌ
Dan memang apabila nanti kita pelajari ilmu nahwu ini kita akan mengetahui bahwasanya bahasa arab ini merupakan bahasa yang sangat baik, artinya sangat menutup celah-celah ambiguitas, sangat menutup celah-celah kalimat yang tidak bisa dipahami atau kalimat yang memiliki beberapa makna yang berbeda karena memang salah satu kelebihan bahasa arab memiliki kekayaan kosakata artinya setiap kata itu mengandung makna yang spesifik bahkan untuk 1 hal yang sama. Seperti misalkan nama-nama binatang banyak yang dibedakan antara yang jantan dengan yang betina, maka tidak hanya itu, terkadang juga dibedakan kalau usianya 1 tahun namanya apa, yang 2 tahun namanya apa. 

Jadi ini salah satu kelebihan bahasa arab, merupakan bahasa yang sangat jelas yang betul-betul menutup kemungkinan kita dalam salah memahami teks, karena memang bahasanya memiliki kekayaan kosakata yang sangat tinggi. Itu memang salah satu kelebihan bahasa arab dibanding dengan bahasa yang lainnya, apalagi bahasa indonesia. 

Jadi Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan bahwasanya bahasa arab ini adalah "bilisaanin 'arabiyyin mubiin" (dengan bahasa arab yang jelas).

Kemudian Allah سبحانه وتعالى juga berfirman :

ﻗُﺮْﺁﻧًﺎ ﻋَﺮَﺑِﻴًّﺎ ﻏَﻴْﺮَ ﺫِﻱ ﻋِﻮَﺝٍ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺘَّﻘُﻮﻥ

"Alqur'an dalam bahasa arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya supaya mereka bertakwa". (AzZumaar 28)

Ini merupakan jaminan dari Allah سبحانه وتعالى bahwasanya Alqur'an yang dalam bahasa arab ini tidak ada kesalahan atau kekeliruan di dalamnya.

Kemudian banyak sekali motivasi-motivasi yang diberikan oleh para ulama sejak zaman Nabi hingga sekarang, yang mana mereka mendorong kita untuk terus mempelajari bahasa arab. Seperti apa yang dikatakan 'Umar bin Khattab رضي اللّه عنه,  beliau berkata :

ﺗَﻌَﻠَّﻤُﻮﺍ ﺍْﻟﻌَﺮَﺑِﻴَّﺔَ ﻓَﺈِﻧَّﻬﺎَ ﻣِﻦْ ﺩِﻳْﻨِﻜُﻢ

"Pelajarilah bahasa arab karena bahasa arab adalah bagian dari agama kalian".

Kemudian Imam Asy syafi'i juga berkata :

مَنْ تَبَحَّرَ فِي النَّحْوِى الهْتَدَى اِلَى كُلِّ الْعُلُوْمِ

"Orang-orang yang memahami ilmu nahwu maka dia akan dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu Islam".

Karena memang ilmu bahasa arab merupakan kunci, kunci yang dengannya kita bisa membuka gudang perbendaharaan ilmu islam. Atau ilmu nahwu ini bagaikan bahtera yang bisa kita gunakan dalam rangka mengarungi luasnya samudera ilmu islam.

Oleh karena itu, marilah kita berdo'a kepada Allah سبحانه وتعالى agar kita dimudahkan dalam mempelajari bahasa arab agar kita bisa memahami agama kita ini, agar kita bisa memahami agama islam dengan baik.

Baik, barangkali ini yang bisa saya sampaikan pada pembahasan yang pertama ini atau pengantar ini. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat pada kita semua, khususnya ana pribadi.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
(Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illaa Anta astaghfiruka wa atuubu ilaik)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Model Indonesia yang Berani Foto Seksi

Isim Jamid

5 BERUNTUNGNYA JIKA CALON ISTRIMU ADALAH SEORANG GURU, KAMU HARUS TAHU!!!