Penebalan Dinding Rahim, Apakah Tanda Awal Kanker?
Penebalan dinding rahim yang terjadi pada wanita selalu dikaitkan dengan tanda awal penyakit kanker. Namun, benarkah demikian? Berikut ulasan dari dr. Muhammad Anwar Irzan.
Penebalan dinding rahim merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyebut Hiperplasia Endometrium. Penebalan dinding rahim/Hiperplasia Endometrium dianggap sebagai suatu gejala untuk kanker endometrium.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan
terkait hal tersebut akan memberikan hasil peningkatan estrogen. Kondisi
ini memang juga akan meningkat pada kondisi-kondisi lain, misalnya
terapi estrogen eksogen, siklus anovulasi, polikistik ovarium sindrom
(PCOS), dan obesitas.
Kondisi tersebut secara teori
meningkatkan kemungkinan terjadinya penebalan dinding rahim/hiperplasia
endometrium dan kanker Endometrium.
Pasien dengan penebalan dinding rahim/hiperplasia endometrium
umumnya datang kepada seorang dokter dengan keluhan perdarahan yang
tidak normal. Kondisi tersebut bisa dalam bentuk menorrhagia,
metrorrhagia, menometrorrhagia, atau perdarahan pasca menopause.
Metode yang paling umum digunakan untuk mendiagnosisis penebalan dinding rahim/hiperplasia endometrium dan kanker pada endometrium adalah dengan aspirasi endometrium, dan/atau juga dikenal sebagai biopsi endometrium.
Prosedur tersebut dapat dilakukan di
poliklinik dokter. Ketika dilakukan, prosedur tersebut dapat membuat
ketidaknyamanan lebih minimal untuk pasien. Selain itu, prosedur ini
juga memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang relatif tinggi.
Berikut penjabarannya:
Tipe
|
Penjelasan
|
Risiko Kanker
|
Simpleks
|
Kelenjar endometrium membesar dan peningkatan stroma endometrium.
|
~ 1%
|
Kompleks
|
Kelenjar endometrium begitu banyak dengan sangat sedikit stroma endometrium, dan pola kelenjar yang sangat kompleks.
|
~ 3%-5%
|
Simpleks dengan atypia
|
Adalah sama seperti di atas, tetapi
juga memberikan kenampakan bentuk sitologi atipik. Hal ini mengacu pada
sel hiperkromatik, sel-sel epitel membesar.
|
~ 8%-10%
|
Kompleks dengan atypia
|
~ 25%-30%
|
Penebalan dinding rahim/Hiperplasia Endometrium sering kali terjadi pada sejumlah wanita dengan kondisi:
- Sekitar usia menopause
- Didahului dengan terlambat haid atau amenorea
- Obesitas (konversi perifer androgen menjadi estrogen dalam jaringan lemak)
- Penderita Diabetes melitus
- Penggunaan estrogen dalam jangka panjang tanpa disertai pemberian progestin pada kasus menopause
- Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)
Pada sebagian besar kasus, terapi hiperplasia endometrium atipik
dilakukan dengan memberikan hormon progesteron. Dengan pemberian
progesteron, endometrium dapat luruh dan mencegah pertumbuhannya
kembali.
Berikut yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan resiko penebalan dinding rahim/hiperplasia endometrium:
- Penggunaan etsrogen pada masa pasca menopause harus disertai dengan pemberian progestin untuk mencegah karsinoma endometrium.
- Bila menstruasi tidak terjadi setiap bulan maka harus diberikan terapi progesteron untuk mencegah pertumbuhan endometrium secara berlebihan. Terapi terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan kontrasepsi oral kombinasi.
- Melakukan gaya hidup sehat untuk menurunkan berat badan.

Komentar
Posting Komentar