6 Hal Perkara Menikah Karena Orang Bilang Sudah Waktunya. Ingat, Pernikahan Bukan Ajang Lomba
Masih sendiri di tengah usia yang sudah saatnya berdua di pelaminan
memang menimbulkan dilema. Meski kamu merasa baik-baik saja, tapi tidak
dengan orang-orang di sekitarmu. Dengan alasan sudah saatnya, sudah
umurnya untuk memikirkan rumah tangga, kamu akan dijejali dengan
pertanyaan kapan nikah setiap harinya. Apapun alasanmu, orang tidak akan
peduli. Karena sudah dilakukan oleh banyak orang di dunia, begitu saja
kamu diharuskan untuk melakukannya juga.
Kamu yang masih betah
sendiri diam-diam dianggap perawan tua, tidak laku, dan tidak bahagia.
Seolah-olah seluruh pencapaian yang kamu punya tidak berharga hanya
karena kamu belum menikah di usia yang seharusnya.
"Tapi jangan dipikirkan terlalu dalam. Kamu tidak sendirian merasakannya. Hanya saja, kamu pasti sudah paham, bahwa pernikahan bukanlah hal yang bisa dijalani hanya karena omongan orang"
1. Pernikahan bukan sekadar hidup berdua dengan pasangan. Ada konsekuensi sosial di baliknya, karena kamu menikahi sebuah keluarga
Sepakat menikah artinya kamu dan dia sepakat untuk mengendarai perahu
berdua. Kini kamu tidak bisa lagi mengarahkan perahumu sesuka hati,
karena ada orang lain di sana yang mungkin kehendaknya berbeda. Kamu dan
dia akan belajar untuk membuat kesepakatan-kesepakatan agar perahumu
tetap tegak berdiri meski diterpa angin dan samudera. Itu saja tidak
cukup. Karena pernikahan bukan hanya soal dua orang saja. Ketika kamu
menikahinya, otomatis kamu menikahi keluarganya dan lingkungannya.
Persoalan keluarga bisa menjadi satu problem yang membuatmu sakit
kepala. Siap tidaknya kamu menanggung semua konsekuensi itu, hanya kamu
sendiri yang tahu.
2. Disadari atau tidak, pernikahan memberikan sekaligus mengambil sesuatu. Sesal setelah pernikahan tak bisa diselesaikan sesederhana itu.
Benar memang, sebuah pernikahan memberimu satu kaki penopang. Kamu
yang selama ini menjalani hidupmu sendiri, menanggung dan memecahkan
masalah sendiri, kini memiliki seseorang untuk bersandar dan membantu
menanggung beban. Pernikahan juga memberimu satu tujuan hidup yang
jelas. Tapi diakui atau tidak, pernikahan juga mengambil banyak hal
darimu. Pertama, kebebasanmu. Kamu tidak bisa lagi pergi ke sana dan
kemari sesuka hati. Dan kedua, kamu tidak bisa lagi melakukan dan
memutuskan segala-galanya sendiri. Akan banyak kompromi yang harus kamu
jalani. Ego dalam dirimu, mau tidak mau harus dibasmi.
3. Usia produktif memang ada batasnya. Tapi kamu menikah untuk bahagia bukan? Tak cuma menciptakan manusia
Usia produktif sering dijadikan alasan. Terutama untuk kaum
perempuan, yang memang produktivitasnya terbatas. Semakin tua, semakin
sulit untuk mendapat keturunan. Memang betul salah satu tujuan dari
pernikahan adalah untuk regenerasi keturunan. Membesarkan anak sendiri
dan membentuk keluarga yang bahagia. Tapi keturunan bukan satu-satunya
tujuan pernikahan bukan? Sedang untuk menjadi orang tua yang baik untuk
keturunanmu, mentalmu sendiri haruslah sudah mapan.
4. Menikah bukan hanya soal mengisi kekosongan dalam hati. Kamu masih bisa tetap kesepian walau sudah beristri atau bersuami
Banyak yang beralasan menikah karena merasa kesepian. Ada rasa kosong
dan sepi dalam hati yang menunggu untuk diisi. Setidaknya, dengan punya
pasangan sah, kamu bisa ngobrol berdua sepanjang malam. Sehari-hari ada
yang menemani, sehingga tidak harus melakukan apa-apa sendiri. Padahal
meskipun kamu sedang berdua, atau sedang dalam keramaian pun, kamu tetap
bisa merasa sepi. Sepi bukan soal ada teman atau tidak, melainkan
bagaimana hatimu relate dengan dunia luar. Rasa sepi munculnya dari dalam hati. Pernikahan bukan jaminan untuk kamu tidak lagi merasakannya.
5. Jangan sampai kamu melakukannya, karena orang bilang sudah waktunya. Kamu sendiri yang tahu kapan harus melangkah menujunya
Teman-teman seumuranmu sudah menikah. Lantas mereka bertanya-tanya
kamu kapan? Apalagi yang kamu tunggu? Apa nunggu tua dulu baru mau
memikirkan soal itu? Apa kamu tidak takut dianggap tidak laku? Semakin
kamu pikirkan, omongan orang semakin kejam. Karena itu, mengabaikannya
adalah jalan yang paling masuk akal. Boleh saja kamu menjadikan saran
dari orang sebagai pertimbangan. Namun jangan menjadikannya sebagai
alasan untuk menikah. Karena hidupmu, kamu sendiri yang menjalani.
Bahagia atau menderita, kamu sendiri yang rasakan. Mereka hanya melihat
dari luar. Apa yang terjadi di dalam, mereka tidak tahu. Dan mungkin
tidak peduli.
6. Setiap orang memiliki kondisi mental yang berbeda. Belum siap sekarang, bukan berarti kamu kalah dengan yang sudah siap. Pernikahan bukan lomba
Mungkin kamu lelah dengan komentar “Dia yang lebih muda darimu saja
sudah berani berkomitmen. Kamu yang sudah tua, masa nggak berani?”.
Seolah-olah komitmen adalah soal usia saja. Komitmen adalah soal
kesiapan hati. Usia boleh sudah tinggi, tapi soal keberanian mengambil
komitmen belum tentu mengikuti. Bukankah lebih baik menunggu sampai saat
yang tepat datang sehingga semuanya sudah matang, daripada begitu
tergesa-gesa dan menyerah di tengah jalan?
Ingatlah bahwa setiap
orang punya kehidupan sendiri-sendiri. Mereka bisa berkomentar ini itu
tentang hidupmu, tapi mereka punya hidupnya sendiri untuk dijalani. Kamu
tidak harus selalu mendengarkan mereka, sebab hidupmu itu, kamu sendiri
yang tahu. Mereka menuntut ini dan itu, tapi mereka tidak melihat
realitamu. Wajar saja, karena realita setiap orang bisa berbeda. Meski
hidup sendirian terlihat sepi dan menyedihkan, namun belum tentu kamu
lebih tidak bahagia daripada mereka yang hidup berdua. Dan orang-orang,
tentu tidak tahu hal ini. Biarkan saja.







Komentar
Posting Komentar