4 Hal Perjuangan Anak untuk Kebahagiaan Ibu, Kebahagiaan Saya Nanti Pasti Ada Waktunya

Halo, Bu? Apa kabar di sana? Harapanku semoga Ibu selalu baik-baik
saja. Mungkin Ibu sedikit merasa aneh melihat surat yang di antar tukang
pos ternyata dari saya. Sebenarnya, saya bisa saja menelepon Ibu
seperti biasa. Tapi rasanya mengirim surat membuat semua gundah akan
tersampaikan dengan sempurna.
Kepulangan saya kini pasti jadi yang
paling Ibu tunggu-tunggu. Sayangnya, padatnya rutinitas pekerjaan
membuat saya tak cukup punya waktu. Seperti bulan-bulan sebelumnya,
lagi-lagi saya gagal menjenguk Ibu. Tapi percayalah Bu, anakmu ini pun
sebenarnya sungguh rindu. Hanya saja, sekarang ini masih banyak hal yang
harus saya lakukan. Bukan untuk diri saya sendiri, tapi justru demi Ibu
yang paling saya cintai.
1. Perkara pekerjaan kini memang jadi prioritas utama. Saya sedang sekuat tenaga berjuang demi karir dan masa depan nantinya.
Jauh-jauh hari sebelum resmi menyandang gelar sarjana, saya mantap
memilih pergi merantau. Bukan tanpa alasan atau sekadar ingin kehidupan
yang bebas, tapi kota besar pastilah tempat yang paling pas. Saya ingin
punya karir yang tak terbatas, dengan penghasilan tinggi dan segala
kebutuhan yang bisa terpenuhi.
Berpisah dari keluarga memang
awalnya terasa berat. Tapi saya ingat, ketika itu Ibulah salah satu
alasan yang membuat saya kuat. Meski keinginan untuk pulang terus saja
menghantui, sekuat tenaga saya memantapkan hati. Karena dengan cara ini
kelak kehidupan yang jauh lebih baik akan saya dapati.
2. Tak lagi ada waktu untuk senang-senang, termasuk kumpul dengan teman dan usaha untuk menemukan pasangan.

Hari-hari di perantauan hanya diisi dengan kerja dan kerja. Lebih
dari 8 jam perhari saya habiskan di kantor, dan sisanya sekadar untuk
nonton DVD di kamar lalu tidur. Ketika akhir pekan, biasanya saya
disibukkan dengan urusan bersih-bersih kamar kosan. Tak lagi ada waktu
untuk senang-senang yang menurut saya sama halnya dengan
menghambur-hamburkan uang.
Di usia ini saya pun mulai
mengesampingkan soal pergaulan. Teman-teman sepermainan toh juga sibuk
dengan urusan masing-masing. Mereka juga sedang berjuang dengan karir
dan cita-cita yang ingin diraih. Selain itu, saya tak lagi punya waktu
untuk memikirkan soal perasaan, Bu. Perkara mencari pasangan sepertinya
bukan hal penting yang harus saya pikirkan sekarang. Bagaimana pun,
jodoh itu kelak akan datang jika sudah sampai waktu yang ditentukan
Tuhan.
3. Saya sedang berpacu dengan waktu, sehingga sah-sah saja mengorbankan kesenangan khas anak muda yang dirasa tak lagi perlu.
Tak sedikit rekan yang berkomentar, katanya saya kurang bergaul dan
bersenang-senang. Tapi di usia yang sekarang, rasanya mengejar
kesenangan-kesenangan khas anak muda memang bukan lagi masanya. Saya
hanya ingin fokus dengan pencapaian dan masa depan saja.
Meski
banyak hal yang harus dikorbankan, sah-sah saja jika dilakukan demi masa
depan nantinya. Saya sering membayangkan punya karir dan penghasilan
yang mapan. Bisa pulang ke rumah sewaktu-waktu lalu mengajak keluarga
dan Ibu pergi liburan. Saya ingin bisa mencukupkan semua kebutuhan,
memastikan Ibu dan orang-orang yang saya sayangi tak merasakan
kekurangan.
4. Ikhtiar saya ini semata-mata demi keinginan itu. Keinginan membahagiakan Ibu selagi saya masih punya kesempatan dan waktu.
Semua yang saya lakukan adalah bentuk perjuangan. Tujuannya hanya
satu, yaitu semata-mata demi bisa membahagiakan Ibu. Sejak kecil hingga
sekarang dewasa, Ibu sudah khatam segala susah payahnya membesarkan
saya. Kini biarkan saya melakukan hal yang sama.
Selagi masih ada
waktu dan kesempatan, saya hanya ingin melihat Ibu merasakan
kebahagiaan. Saya akan berusaha mencukupkan segala yang Ibu butuhkan.
Saya pula yang akan berjuang agar Ibu tak pernah merasa susah dan
kekurangan. Jujur saja, saya hanya tidak mau merasakan penyesalan jika
nanti Ibu pergi dan saya belum tuntas memberimu kebahagiaan.
“Jadi sekarang, yang penting Ibu bahagia. Kebahagiaan saya nanti saja, pasti akan tiba waktunya…”


Komentar
Posting Komentar