4 Hal Harus Menahan Rindu, Sementara Jarak Memaksamu Untuk Bersabar. LDR

Katanya merindukan seseorang itu menyenangkan. Konon katanya pula,
rindu menjadi bukti nyata seberapa kuat ikatan hubungan kamu dan dia.
Tapi hingga saat ini, kamu sendiri tak pernah merasakan betapa
menyenangkannya merindukan seseorang. Dalam banyak hal, rindu justru
jadi penghalangmu untuk menjalani hari. Tak bisa melihat dan
merengkuhnya setiap waktu menjadi tantangan yang setiap hari harus kamu
lalui.
Tapi demi masa depan yang selalu kamu dan dia harapkan bisa segera terwujud, kamu harus rela rindumu tertahan dalam jangka waktu tertentu. Kamu dipaksa menjadi pribadi yang penyabar. Meski kamu seringkali kesal jika koneksi internet pada ponselmu tiba-tiba berjalan lambat. Namun untuk urusan rindu kamu berubah menjadi pribadi dengan penambang sabar yang lebih besar.
Ketika bilang rindu semakin membebani, kamu memilih menunggu lebih lama lagi
1. Ada saat kamu merengek manja kepadanya meminta bertemu. Sesekali waktu..
Kamu tak beda jauh seperti banyak gadis lainnya. Sesaat setelah
melihat punggungnya pergi menjauh, kamu sudah merengek manja kepadanya.
Menghujaninya dengan ribuan kata rindu. Padahal kamu tahu kepergiannya
demi kewajiban yang tak bisa ia tinggalkan. Belum lagi kamu yang selalu
berharap untuk segera dihalalkan. Kepergiannya ini jelas demi membangun
masa depan.
Ada waktu kamu mandiri sekali. Hingga dia tak tahu
harus membantumu dalam hal apa, seakan semua sudah terselesaikan dengan
baik oleh tanganmu. Namun kamu juga tak kehilangan sisi dirimu yang
lain. Rindu sesekali mengubahmu menjadi pribadi yang egois. Merengek
meminta bertemu meski kamu tahu hal tersebut belum memungkinkan untuk
diwujudkan. Kamu makin memberatkan langkahnya untuk pergi, padahal kamu
sudah janji bisa lebih kuat dari ini.
Kamu dan dia sebenarnya sudah punya list rencana jangka panjang yang
menanti untuk diwujudkan. Obrolan tentang KPR rumah yang semakin mahal
tiap tahunnya tak pernah absen menjadi topik obrolan. Atau tentang
bagaimana kalian menyusun rencana, sebaiknya kapan kedua orangtua
dipertemukan. Semua seperti sudah terencana dengan matang.
Namun sematang apapun rencana yang sudah kamu dan dia susun, bukan berarti mampu menjaga keraguan jauh-jauh dari kamu. Justru ada masanya kamu tiba-tiba merasa sangat ragu dengan hubungan yang saat ini kamu dan dia jalani. Rindu yang lebih banyak tertahan dibandingkan tersampaikan membuatmu sering membayangkan, bagaimana kalau kamu dan dia akhiri saja. Sampai persoalan jarak tak lagi mengganggu.
"Nyatanya, nyali yang kamu miliki tak pernah sebesar itu. Kamu sadar tak ada hal lain yang bisa kamu lakukan selain menunggu"
3. Saat logika dan kewarasan kembali bertemu, rindu akhirnya jadi hal yang paling menguatkan. Ketika jarak belum juga bisa kamu kalahkan

Kamu dan dia sudah pernah saling berjanji, untuk saling menguatkan
dalam kondisi apapun. Keraguan yang sempat menghantui pikiran cukup jadi
batu kerikil yang membuatmu sedikit tersandung. Ketika logika sudah
kembali dan kewarasan kembali terjaga, rindu akhirnya jadi hal yang
paling menguatkan. Dengan rindu, kamu sadar ada dia disana yang harus
terus kamu perjuangkan. Rindu juga mengajarkanmu pada perasaan yang
sebenarnya, bagaimana hati tetap saling terpaut di saat tangan tak bisa
saling menggenggam.
Selama jarak belum bisa juga kamu kalahkan,
setidaknya ada rindu yang mengingatkanmu soal ketulusan menanti. Ada
rindu yang menjaga hatimu tetap meremang hangat setiap kali mendengar
suaranya. Serta ada rindu yang selalu membuatmu menyebut namanya dalam
setiap doa yang kamu panjatkan.
4. Katanya kamu yang selalu membuatnya ingin pulang. Sedangkan dia jelas jadi alasanmu untuk bertahan
Bagi dia, kamu seperti rumah. Tempatnya untuk pulang dan menuntaskan
rindu. Kamu adalah penawar dari segala penat yang dia rasakan selama
berada di perantauan. Untuk itu, kamu sadar diri untuk tidak bisa keras
kepala lagi. Menahan diri untuk tidak selalu menuntut ini itu.
Sementara
dia jelas harapan bagimu, yang membuatmu terus bertahan. Dia yang
paling bisa menguatkan, ketika ada beban yang tak sanggup kamu topang.
Kalian berdua tumbuh bersama menjadi manusia dewasa. Saling menopang
jadi kewajiban yang harus tetap kalian lakukan. Memilih bertahan dan
tidak saling memberatkan.
"Sabar sebentar lagi saja. Sampai tiba waktunya kamu dan dia bisa mengalahkan jarak"

Komentar
Posting Komentar